I.

Puan sedang dalam perenungan,

terlintas ingin menanyakan kabar sahabat yang sudah lama tidak bertukar cerita,

lalu mulai mengetik beberapa kata di atas layar sentuh gawai,

(Puan 1) “Hai, kamu sedang sibuk ya ?”

 

Sahabat di seberang sana langsung membalas dengan melakukan panggilan telepon,

sepertinya ia juga sedang rindu,

(Puan 2) “Kamu apa kabar ?”

 

Mereka tahu tanpa saling memberi tahu,

jika salah satu dari mereka memulai obrolan atau panggilan,

sudah barang tentu ada hal mendesak yang harus segera mereka bagi.

 

(Puan 1) “Semalam anakku baru membeli sandal, ia lupa memasukkannya ke dalam rumah, tadi pagi ketika akan dipakai sandalnya basah dan bau pesing, ternyata habis dikencingi kucing. Sial benar itu kucing. Aku curiga pada kucing persia bermuka menggemaskan milik tetangga sebelah kiri rumahku, ia sering bersembunyi di kolong mobil.”

 

(Puan 2) “Ada berapa banyak kucing di sekitar rumahmu ? Mungkin pelakunya bukan kucing yang kamu maksud, sebaiknya jangan mengutamakan prasangka.”

 

(Puan 1) “Di sini banyak sekali kucing berkeliaran, dulu Petugas Penertiban Hewan Liar secara berkala  menangkap kucing-kucing liar dan kucing peliharaan yang berkeliaran,  tapi sejak kepengurusan Pejabat Lingkungan yang baru, Petugas Penertiban Hewan Liar sudah tidak pernah dipanggil lagi. Jangan-jangan mereka bersekongkol.”

 

(Puan 2) “Persekongkolan Pejabat Lingkungan dan kucing liar maksudmu ? Hati-hati jangan sembarang bicara, nanti bisa dituntut”.

 

(Puan 1) “Kalau bukan persekongkolan lalu apa ?

“Kemaren lusa tetangga di belakang rumahku menyampaikan di grup “chat” warga, pot bunga di halaman rumahnya berantakan karena tertabrak kucing betina miliknya yang lari ketakutan dikejar-kejar kucing liar jantan birahi. Karena gagal berkali-kali melampiaskan nafsunya pada kucing kampung betina milik tetanggaku, kucing liar itu mengencingi bunga-bunga dalam pot yang sudah berantakan.”

“Tetanggaku sudah melaporkan kejadian ini pada Pejabat Lingkungan, alih-alih ditanggapi, pesannya saja baru dibaca tadi pagi. Katanya, Pejabat Lingkungan tersebut beberapa hari ini sibuk rapat dengan Pejabat Tingkat Atas, jadi belum bisa menanggapi laporan warganya.”

“Mungkin sebaiknya aku mengumpulkan warga yang telah menjadi korban kebinalan kucing-kucing bengal di lingkunganku, untuk segera mengambil tindakan, agar kucing-kucing itu tidak semakin menguasai wilayah kami”.

“Akar rumput bersatu tidak bisa dikalahkan !”

 

(Puan 2) “Kau ini terlalu berlebihan, hati-hati nanti dituduh makar !”

 

(Puan 1) “Eh, sudah dulu ya, sudah waktunya aku menyiapkan makan siang untuk suami dan annak-anakku.”

 

(Puan 2) “Oke, aku juga akan pergi ke warung. Aku harus memperbanyak persediaan kapur barus. Sudah hampir satu minggu ini di teras rumahku selalu bau pesing dan banyak kotoran tikus, sampai nanti.”

 

(Puan 1) “Dadah.”

 

II.

Kucing dan tikus mengencingi rumah para puan.

Kucing dan tikus ingin berkuasa.

Kucing dan tikus menggunakan “politik kencing” untuk menandai wilayah mereka,

karena sejatinya politik adalah cara untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan.

 

 

Kudus, 2025

2 thoughts on “Epigon (Cerita Puan 3)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!