Kemarin, sebuah pesan masuk ke kotak surat elektronik Puan “besok pagi, di tempat biasa”.

 

Pagi ini, Puan datang memenuhi undangan.

Menyusuri jalanan sepi di awal bulan Mei yang basah.

Hujan merayu April untuk tidak membawanya pergi, ia ingin menyapa Mei sebentar.

Dia hujan yang genit.

 

Bugenvil menyambut Puan di gerbang utara dan membisikkan “dia sudah datang”.

Puan meneruskan langkah, melewati anyelir dan peony yang sedang mencumbu matahari pagi.

Mawar menguarkan aroma manis menggoda ketika Puan melintas di depannya.

Puan menghentikan langkah dan menghampiri mawar “nanti aku mampir, ia tidak suka menunggu lama”.

 

Di sebuah bangku di antara deretan bakung yang sedang mekar ia duduk.

Senyumnya mengembang ketika melihat Puan datang.

Ia menyambut Puan dengan pelukan hangat.

“untukmu” katanya sambil menyodorkan sebuah batu mulia berwarna hijau.

“seorang rahib yang kutemui di Negeri Emas memberikannya kepadaku, katanya aku adalah perantara bagi zamrud ini untuk menemukan pemiliknya, ia memilihmu”, katanya dengan tatapan penuh arti.

 

Ia yang pergi karena jiwa yang merasa hampa, kini pulang dengan hati yang penuh.

Ia terlahir kembali, membawa bahagia dan damai yang menenangkan.

Seperti teratai yang tumbuh di kolam ashram para rahib.

Ia menuju sempurna.

 

 

 

 

Awal bulan Mei, di sebuah taman di pinggiran kota yang sejuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!