
I.
30 menit sebelum tindakan medis dilaksanakan, Puan gentar menunggu jarum jam tepat di angka 12. Sebentar lagi pikirnya. Di bawah selimut putih, ujung kukunya bergantian menyentuh tiap ruas jari kanan dan mulutnya terus mengucap puji-pujian kepada Sang Pemilik Hidup.
II.
Jarum jam telah meninggalkan angka 12. Seorang petugas perempuan datang membawa berita “tindakan Puan kami tunda, karena seorang pasien saraf butuh pertolongan segara”. Gelisah Puan makin menggila. Iba ia melihat Puan yang makin pucat macam mayat. Bercerita ia tentang putra semata wayangnya yang teguh kukuh memilih melanjutkan sekolah di Seminari, berharap dapat mengalihkan derita Puan. “saya mengalah pada pilihan buah hati, karena percaya jalan Tuhan bawa kebaikan”, ucapnya yakin. Beberapa menit berlalu, ia pamit untuk melanjutkan pekerjaan di ruangan lain. Gelisah Puan kini bercampur iba.
III.
Petugas lain datang menyuntikkan cairan bening di lengan kiri Puan. Setengah sadar Puan dibawa melewati lorong putih penuh lampu. Kemudian terbangun dalam iringan merdu suara penyanyi pria dari pengeras suara dan senandung lembut Ginekolog perempuan yang sudah ia kenal. Anastesiolog pria disampingnya menyapa “Puan sudan sadar ?”
Kamar operasi, Juni 2023