
“seringkali kita adalah tokoh jahat dalam cerita orang lain, tidak mengapa bagiku”, ucapnya datar sambil menghembuskan asap rokok berperisa stroberi dari mulutnya.
“bukan perihal siapa iblis dan siapa malaikat, ini tentang isi kepala yang tidak sama dan hati yang tak bisa merasa”, ujarnya sambil mengetuk kepala dan dada bergantian dengan ujung jari telunjuk kiri.
Aku tertegun menatap perempuan di hadapanku. Tak satu katapun kuasa keluar dari mulutku. Lidahku kelu. Ia membuatku gagu.
“aku yakin Tuhan punya maksud baik mempertemukanku dengan mereka” katanya lagi sambil menghisap rokok yang kini tinggal setengah batang.
Perempuan bertato mawar di lengan kanan itu mulai mengetuk-ngetukkan ujung rokoknya yang sudah menjadi abu. Sambil membenamkan ujung rokok ke dalam asbak ia berkata “tidak mengapa mereka pergi, karena bukan aku yang meninggalkan, tapi mereka yang mengkhianati, hatiku lapang sekarang” ucapnya diiringi senyum tipis, sambil menyesap kopi hitam dalam cangkir berhiaskan bunga lili merah jambu yang sejak tadi belum disentuhnya.
Senja mulai menyapa dan lampu jalanan mulai dinyalakan. Ia pamit untuk menemui kekasihnya di seberang jalan. Hingga ia hilang dari pandangan, aku masih belum mampu mengucap satu katapun, meski aku sangat ingin bertanya “badai apa yang sudah kamu lewati Puan, hingga hatimu begitu lapang dan damai ?”
2025